Teori Kecerdasan Majemuk Dan Aplikasinya


Teori Kecerdasan Majemuk adalah sebuah fenomena dalam dunia pendidikan di akhir abad ke-20 dan menjadi sebuah tren dalam dunia pendidikan Indonesia akhir-akhir ini. Adalah Howard Earl Gardner (1943- ), seorang peneliti di Project Zero milik Universitas Harvard, yang mencetuskan ide mengenai kecerdasan yang menentang aliran kecerdasan utama dan tradisional yang ada saat itu. Ide itu dituangkannya dalam buku Frames Of Mind (1983) yang kemudian diikuti oleh belasan buku lain yang mengulas mengenai kecerdasan majemuk ini.
Pemahaman tradisional mengenai kecerdasan berawal dari kejadian ketika para pemimpin kota Paris  berkumpul di La Belle Epoque pada tahun 1900 dan berbicara dengan seorang ahli psikologi bernama Alfred Binet dengan permintaan yang tidak biasa: Apakah dia mampu merancang sebuah ukuran yang dapat memperkirakan anak muda mana yang akan sukses dan mana yang akan gagal dari sekolah dasar Paris?
Dan kenyataan sejarah yang terjadi, Binet memenuhi permintaan tak biasa ini. Dalam waktu singkat, penemuannya menjadi terkenal dengan sebutan ”tes kecerdasan”; ukurannya, ”IQ”. Seperti model baju hasil perancang terkenal Paris, tes ini kemudian tersebar ke negara-negara lain, terutama Amerika Serikat. Pasca Perang Dunia I, tes IQ dipakai untuk menguji satu juta orang Amerika yang mendaftar menjadi tentara, dan benar-benar mencapai kesuksesan. Sejak saat itu, tes IQ menjadi salah satu sukses terbesar ilmu psikologi–sebuah alat ukur yang ilmiah dan berdaya besar (powerful).
Namun hegemoni IQ lama kelamaan membuat banyak orang ragu mengenai konsep kecerdasan yang dibawanya mulai dari Leo Vygotsky, Robert J. Stenberg sampai Daniel Goleman. Dengan berawal dari keraguan atas pemahaman tentang kecerdasan yang selama ini ada, Gardner kemudian menyusun sebuah konsep yang akhirnya kita kenal sebagai Teori Kecerdasan Majemuk (KM).
Konsep Yang Melandasi Dan Teori Kecerdasan Majemuk
Howard Gardner melihat kecerdasan sebagai ’kapasitas seseorang untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan sesuatu yang berharga untuk sebuah atau beberapa latar budaya’. Gardner menyusun kriteria-kriteria yang disebut sebagai ’tanda’ kecerdasan sebagai berikut:
  1. Isolasi kemampuan akibat kerusakan otak.
Setiap kecerdasan dilaksanakan oleh salah satu bagian otak.  Bila bagian dari otak tadi diisolasi atau lumpuh seperti dalam kasus pasien yang menderita luka otak, harus terbukti bahwa kecerdasan tersebut lenyap.  Contoh yang jelas ialah bagaimana suatu kemampuan berbahasa lenyap bila bagian tertentu dari otak seorang pasien mengalami luka.  Jadi, kecerdasan harus dibuktikan dengan adanya kemungkinan melakukan isolasi terhadap bagian otak tertentu.
  1. Keberadaan idiot savant (orang yang sangat cerdas pada hal tertentu tetapi tidak memahami hal yag lain), anak-anak autis dan orang-orang yang memiliki kelebihan.
  2. Seperangkat kinerja atau kinerja inti (core operation) yang dapat dikenali.
Setiap kecerdasan memiliki inti dari rangkaian operasinya.  Jadi, misalnya kecerdasan verbal/linguistik memiliki inti berupa kemampuan untuk mengolah kata dan berbahasa.
  1. Sejarah perkembangan yang jelas, diikuti dengan seperangkat unjuk kerja ‘end-state’ yang dapat dijelaskan.
Suatu kecerdasan harus memperlihatkan adanya suatu sejarah perkembangan yang dapat dikenali dengan jelas dengan hasil akhir tingkat tinggi. Tingkat perkembangan dari kecerdasan tadi yang sangat tinggi nyata bedanya dengan tingkat perkembangan yang biasa atau yang tertinggal. Selanjutnya suatu kecerdasan juga memperlihatkan kapan umumnya hal ini mulai, berkembang dan menurun
  1. Sejarah evolusi dan kemungkinan-kemungkinan evolusi.
Adanya bekas-bekas dari dalam sejarah umat manusia dan evolusinya mengenai awal kehadiran kecerdasan. Sejarah manusia meninggalkan jejak-jejak kecerdasan-kecerdasan tadi seperti lukisan gua di Altamira yang menunjukkan kemampuan manusia untuk menggunakan kecerdasan tertentu untuk mengungkapkan makna hidupnya pada masa purbakala sekalipun
  1. Adanya dukungan dari uji eksperimen psikologis.
  2. Adanya dukungan dari penemuan psikometri.
  3. Keterjemahan sebuah sistem simbol.
Kemampuan untuk dikodekan dalam suatu sistem simbol artinya setiap kecerdasan cenderung dapat diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu. Setiap cara untuk memahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak perduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikannya. Walupun telah berkembang jenis keterampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdasan adalah bersifat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri
Para kandidat yang dapat disebut sebagai ‘kecerdasan’ harus memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Pengelompokan yang dilakukan Gardner lebih condong kepada pengelompokan secara intuitif dibandingkan pengelompokan menggunakan penilaian ilmiah.
Pada awalnya Howard Gardner merumuskan tujuh kecerdasan. Daftar awal ini bersifat sementara. Dua kecerdasan yang pertama telah biasa dipakai di sekolah-sekolah. Tiga kecerdasan berikutnya banyak diidentifikasi orang di bidang seni. Dan dua yang terakhir oleh Howard Gardner disebut ‘kecerdasan personal’. Ketujuh kecerdasan itu adalah:
  1. Kecerdasan verbal/bahasa (verbal linguistic intelligence): merupakan kemampuan seorang dalam menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan, untuk  mengekspresikan ide-ide atau gagasan-gagasan yang dimilikinya. Kemampuan ini berkaitan dengan pengembangan bahasa secara umum. Orang yang mempunyai kecerdasan bahasa tinggi akan berbahasa lancar, baik dan lengkap. Ia mudah untuk mengetahui dan mengembangkan bahasa dengan mudah mengerti urutan dan arti kata-kata dalam belajar bahasa, menjelaskan, me-ngajarkan,dan menceritakan pemikirannya pada orang lain. Misalnya: bahasa, puisi, humor, berpikir simbolik,dan sebagainya.
  2. Kecerdasan logika/matematik (logical/mathematical intelligence): merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, seperti yang dimiliki matematikawan, saintis, dan programmer. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan.orang yang mempunyai kecerdasan ini sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara kerja, berpikir ilmiah, termasuk berpikir deduktif dan induktif akan muncul bila ada masalah baru dan berusaha menyelesaikannya.
  3. Kecerdasan visual/ruang (visual/spatial intelligence): adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat atau  berhubungan dengan  kemampuan indera pandang dan berimajinasi,  seperti yang dimiki oleh para navigator, pemburu, dan arsitek. Yang termasuk dalam kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan bentuk benda dalam pikiran dan mengenali perubahan tersebut, menggambarkan suatu hal/benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta mengungkapkan data dalam suatu grafik.
  4. Kecerdasan tubuh/gerak (body/ kinesthetic intelligence): merupakan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan masalah. Orang yang mempunyai kecerdasan ini dengan mudah mengekspresikan dengan gerak tubuh misalnya menari, permainan olah raga, pantomim, mengetik, dan sebagainya.
  5. Kecerdasan musikal/ritmik (musical/rhythmic intelligence): merupakan kemampuan untuk mengembangkan dan mengekspresikan, menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi dan intonasi, serta kemapuan memainkan alat musik, menyanyi, menciptakan lagu, menikmati lagu, dan nyayian.  Musik dapat menenangkan pikiran, mamacu kembali aktivitas, memperkuat semangat nasional, meningkatkan iman, dan sebagainya.
  6. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence): berhubungan dengan kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Mampu mengenali perbedaan perasaan, temperamen, maupun motivasi orang lain. Pada tingkat lebih tinggi kecerdasan ini dapat membaca konteks kehidupan orang lain. Tampak pada guru, konselor, teraphis, politisi, pemuka agama.
  7. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence): kemampuan pemahaman terhadap aspek internal, seperti perasaan, proses berpikir, refleksi diri, intuisi, dan spiritual. Identitas diri dan kemampuan transeden manusia. Kecerdasan ini sifatnya paling individual, dan untuk menggunakan diperlukan semua kecerdasan yang lain.
Dalam buku Frames of Mind Howard Gardner memperlakukan kecerdasan personal sebagai “sebuah pasangan”. Karena hubungannya sangat erat pada budaya tertentu, kedua jenis kecerdasan itu kerap dijadikan satu. Namun, Gardner tetap berpendapat bahwa cukup logis untuk memisahkan keduanya. Gardner mengatakan bahwa ketujuh kecerdasan itu jarang beroperasi sendiri-sendiri. Mereka dapat digunakan secara bersamaan dan saling melengkapi ketika seseorang membangun ketrampilan atau memecahkan masalah.
Pada dasarnya, Howard Gardner mengatakan bahwa dia membuat dua pokok pikiran yang paling penting tentang kecerdasan majemuk. Yaitu:
  1. Teori ini mempertimbangkan kemampuan kognitif manusia secara keseluruhan. Teori ini membuat ‘definisi baru’ mengenai kecerdasan. Dan manusia adalah organisme yang memiliki seperangkat kecerdasan dasar.
  2. Orang-orang memiliki kombinasi kecerdasan yang unik. Howard Gardner mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam managemen sumber daya manusia adalah ‘bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari keunikan setiap orang yang memperlihatkan kecerdasan yang berbeda-beda’.
Sejak daftar kecerdasan yang dipublikasikan Gardner dalam buku Frames of Mind (1983) terdapat banyak diskusi mengenai kemungkinan adanya kandidat-kandidat lain yang dapat disebut sebagai kecerdasan.
Penelitian lanjutan dan refleksi yang dilakukan Gardner bersama koleganya menghasilkan empat kemungkinan: kecerdasan naturalis (naturalist intelligence), kecerdasan spiritual, kecerdasan eksistensial dan kecerdasan moral. Pada tahun 1999 melalui bukunya, Intelligence Reframed; Multiple intelligences for the 21st century, Gardner menambahkan kecerdasan naturalis pada daftar kecerdasan majemuknya. Dimana,
Kecerdasan naturalis (naturalistic intelligence) adalah kecerdasan yang terkait dengan kemampuan mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat memahami dan menikmati alam dan menggunakannya secara produktif dalam bertani, berburu, dan mengembangkan pengetahuan akan alam. Banyak dimiliki oleh  pakar lingkungan, misalnya mengenali perubahan lingkungan dengan cara melihat gejala lain seperti  adanya daun patah dapat  digunakan untuk memastikan siapa yang baru saja melintas.
Jika kecerdasan naturalis dimasukkan ke dalam daftar secara langsung sebagai kecerdasan yang kedelapan, kecerdasan spiritual masih dipertimbangkan karena memiliki aspek-aspek yang lebih kompleks. Menurut Howard Gardner ada banyak masalah menyangkut hal tersebut, contohnya, sekitar ‘isi’ dari kecerdasan spiritual, bagaimana orang memandang kebenaran spiritual satu dengan yang lainnya.
Kecerdasan eksistensial, adalah kandidat yang berikutnya. Gardner menganggap kecerdasan ini memenuhi kriteria. Namun, bukti empiriknya masih terlalu lemah –meskipun akan sangat menarik bila terdapat kecerdasan kesembilan. Oleh karena itu Howard Gardner masih menunda untuk memasukkan kecerdasan ini ke dalam daftar. Bila kecerdasan eksistensial ini masuk dalam daftar, maka kecerdasan spiritual yang disebut lebih awal akan masuk dalam lingkup kecerdasan eksistensial.
Kandidat terakhir dalam daftar Howard Gardner adalah kecerdasan moral. Dalam eksplorasinya, Gardner mulai bertanya-tanya apakah mungkin untuk menghubungkan antara kawasan kecerdasan dengan kawasan moral. Isu sentral kawasan moral adalah kemampuan seseorang untuk membentuk perilaku, mengerti dan menaati aturan dan membangun sikap-sikap hidup yang menjadi batu bata kehidupan seseorang. Lebih jauh, Gardner berpendapat para penulis dan peneliti belum pernah mempertimbangkan bahwa kawasan-kawasan moral adalah produk dari kecerdasan manusia.
Sehingga sampai saat ini, Gardner membuat teori kecerdasan majemuk yang tersusun atas delapan jenis kecerdasan. Namun, Gardner tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat jenis-jenis kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan eksistensial –yang masih dipertimbangkan.
B. Pembahasan
Belajar Dari Sudut Pandang Teori Kecerdasan Majemuk
Belajar adalah usaha untuk menghidupkan secara utuh dan alamiah seluruh kecerdasan yang dimiliki individu. Dari sudut pandang teori humanistik, dasar-dasar teori kecerdasan majemuk memang sangat humanis, yang memberi  tekanan pada positive regards (pandangan positif), acceptance (dukungan), awareness (kesadaran), self-worth (nilai diri) yang kesemuanya itu bermuara pada aktualisasi diri yang optimal. Psikologi humanistik menekankan pada personal growth (perkembangan individu), sesuai dengan arah dari teori kecerdasan majemuk.
Pembelajaran adalah suatu proses membangun/memicu, memperkuat, mencerdaskan, dan mentransfer kecerdasan. Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif (Riyanto Theo, 2002).  Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellence” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Persoalannya adalah bagaimana menciptakan kondisi kelas bagi tumbuh kembangnya kecerdasan majemuk pada diri para siswa, mengingat banyak orang mempersepsi bahwa kelas yang baik adalah kelas yang diam, teratur, tertib, dan taat pada guru. Kelas yang ramai selalu diterima sebagai kelas yang negatif, tidak teratur, walaupun mungkin ramainya kelas tersebut disebabkan karena siswa berdebat, berdiskusi, bereksplorasi, atau kegiatan-kegiatan positif lainnya. Guru-guru yang ada pun seringkali lebih menyukai pada kelas yang tertib, teratur, siswa-siswanya patuh dan tidak kritis.
Sistem pendidikan hendaknya berpusat pada peserta didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan demi kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau lembaga lain. Pendidikan yang hanya memusatkan pada kepentingan kebutuhan kerja secara sempit harus dikembalikan kepada kepentingan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik secara utuh. Seperti misalnya kemampuan bernalar, berpikir aktif-positif, kreatif, menemukan alternatif dan prosesnya menjadi pribadi yang utuh (process of becoming). Peserta didik hendaknya benar-benar dikembalikan sebagai subjek (dan juga objek) pendidikan dan bukannya objek semata-mata.
Pendidikan dan pembelajaran yang mendasarkan pada kecerdasan majemuk membuka kesempatan pada para siswanya untuk kritis dan mungkin tidak patuh karena siswa menemukan kebenaran-kebenaran lain dari kebenaran yang dipegang oleh gurunya. Masalahnya, sejauh mana kesiapan para guru dan pengelola pendidikan lainnya dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia Indonesia?  Dapatkah sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lain memenuhi semua fasilitas untuk kepentingan mengasah kecerdasan yang sesuai dengan gaya belajar secara proporsional? Apakah guru atau tenaga-tenaga kependidikan lain siap mengadakan pembaharuan terhadap dirinya? Semua jawaban terpulang pada mereka yang terlibat dalam proses pendidikan dan pembelajaran.
Kelebihan Dan Kekurangan Teori Kecerdasan Majemuk
Sebagai sebuah teori, apa yang dikemukakan oleh Howard Gardner ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihan teori kecerdasan majemuk antara lain sebagai berikut ini.
  1. Pembelajaran dapat lebih fokus terhadap suatu kecenderungan kecerdasan dan punya hasil yang optimal.
  2. Memberikan sudut pandang baru terhadap pengembangan potensi manusia.
  3. Memberi harapan dan semangat baru, terutama terhadap si belajar/pemelajar.
  4. Membuka kesempatan pada si belajar untuk kritis dan berpikiran terbuka.
  5. Menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang kecerdasan/inteligensi.
Dan kelemahan-kelemahannya sebagai berikut:
  1. Memiliki kontroversi terutama dalam pandangan ahli psikologi tradisional, antara lain mencampuradukkan pengertian kecerdasan, ketrampilan dan bakat.
  2. Bersifat personal/individual sehingga teori ini lebih efektif digunakan  untuk mengembangkan pembelajaran orang per orang daripada mengembangkan pembelajaran massa/klasikal.
  3. Membutuhkan fasilitas yang lengkap sehingga membutuhkan biaya besar untuk operasional klasikal atau massal.
  4. Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya siap melaksanakan teori ini dalam praktek di dalam kelas K-12 ataupun juga pembelajaran yang melibatkan pemelajar dewasa, karena sudut pandang kebanyakan orang masih sudut pandang tradisional.
Bertolak dari permasalahan tersebut, maka untuk menerapkan konsep kecerdasan majemuk diperlukan suatu reformasi pendidikan.
Untuk dapat mengadakan reformasi pendidikan, hal-hal berikut perlu mendapatkan pertimbangannya: a) si belajar dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran; b) teori aktivitas diri dan aktif-positif merupakan dasar dari proses pembelajaran; c) tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan si belajar daripada tekanan pada penguasaan materi pembelajaran; d) kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”; e) perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah arus deras individualisme; g) hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat-ingat saja; h) pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas siswa.
Teori Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk memang masih memerlukan kajian dan banyak pengalaman lapangan. Namun, setidaknya teori ini telah banyak mengingatkan kepada kita bahwa manusia memang diciptakan unik (disusun oleh Arka, Rini dkk).
DAFTAR PUSTAKA
Asri Budiningsih. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Brualdi, A, C. (1996) ‘Multiple Intelligences: Gardner’s Theory. ERIC Digest’, Eric Digests, http://www.ericdigests.org/1998-1/multiple.htm
Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk, Teori Dalam Praktek. Batam: Interaksara
Riyanto, Theo. 2002. Pembelajaran sebagai Proses Pembimbingan Pribadi. Jakarta:   Grasindo.
Smith, Mark K. (2002, 2008) ‘Howard Gardner and multiple intelligences’, the encyclopedia of informal education, http://www.infed.org/thinkers/gardner.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: