PENGEMBANGAN KURIKULUM


Setiap awal tahun ajaran baru, sekolah membuat kurikulum di tingkat satuan pendidikan masing-masing. Pengembangan Kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam pengembangan program pendidikan. Sasaran yang dicapai bukanlah semata-mata memproduksi bahan pelajaran, melainkan pada peningkatkan kualitas pendidikan. Pada umumnya, para ahli kurikulum  memandang bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi.Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur–unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuahkurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008  dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BNSP.

Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas No.24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL. KTSP membuka ruang partisipasi kreatif guru dan pengelola sekolah dalam penjabaran rencana, model,metode, taktik dan strategi dan pemilihan media pembelajaran.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan kurikulum.

Prinsip merupakan pedoman untuk mengarahkan kegiatan orang yang bekerja dalam suatu lapangan tertentu. Prinsip-prinsip untuk mengembangkan kurikulum menurut Oliva adalah bersumber dari:

  1. Empirical data (data empiris)
  2. Experimental data (data eksperimental)
  3. The folklore ( berupa keyakinan dan sikap masyarakat)
  4. Common sense (akal sehat)

Masih menurut Oliva, bahwa prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dapat dipandang sebagai Whole Truts (kebenaran umum). Partial truths (sebagian mengandung kebenaran) atau hipotesis (dugaan). Oliva mempergunakan istilah aksioma untuk menyatakan prinsip sebagai suatu kebenaran yang ”self evident”, yang memberikan pedoman  dan kerangka acuan, dalam memecahkan masalah. Aksioma tersebut adalah:

Aksioma 1.  Inevitability of Change (Change is both inevitable and necessary, for it is through change   thal life  forms grow and develop). Perubahan pada hakekatnya tidak dapat dihindari dan diperlukan, karena melalui perubahan kehidupan menjadi tumbuh dan berkembang. Para pembina kurikulum turut memberi jawaban terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.

Aksioma 2  Curriculum is a product of its time (a school curriculum not only reflects but is a product of its time). Sehubungan dengan aksioma 1 suatu kurikulum bukan hanya mencerminkan keadaan zaman, tetapi merupakan produk zaman. Meskipun kurikulum sering lambat mengikuti perkembangan masyarakat, tetapi pada dasarnya mengandung transformasi. Kurikulum menjawab tantangan, perubahan sosial dan diubah oleh penemuan psikologi, pandangan filsafat, dan kemajuan ilmu pengetahuan

Aksioma 3. Concurrent Changes (Curriculum changes made at an earlier period of time can exist concurrently with newer curriculum changes at a later period of time) Kurikulum yang  berada di masa lampau dapat berlaku dan berada bersama dengan kurikulum baru. Suatu pengembangan kurikulum dapat tumpang tindih, untuk waktu yang lama. Hal ini jelas dalam sejarah kurikulum suatu tema kurikulum sering marupakan suatu rekapitulasi

Aksioma 4.  Change in people (Curriculum changes results from changes in people). Perubahan kurikulum merupakan hasil perubahan manusia. Karena itu perobahan kurikulum, harus dimulai dari perubahan manusianya, meliputi perubahan keyakinan, sikap, pengetahuan, keterampilan dan kemauan. Dengan singkat merobah faktor-faktor yang berinteraksi dalam penegembangan kurikulum

Aksioma 5.  Cooperative Endeavor(Curriculum change is effected as a result of cooperative endeavor on the part of groups) Suatu pengembangan kurikulum merupakan suatu hasil usaha yang kooperatif. Oliva melihat kerjasama dalam pengembangan kurikulum bukan hanya mengutamakan konstruksi sejumlah bahan tapi lebih merupakan pertumbuhan individual. Para profesional harus merupakan inti dalam kerjasama ini

Aksioma 6.   Decision-making Process (Curriculum developmenet is basically a decision making process). Pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan suatu proses pengambilan keputusan. Para perencana mengadakan pemilihan menentukan prioritas meliputi pemilihan disiplin, pendapat yang berkembang, bobot, metode dan organaisasi

Aksioma 7.  Continuous Process (Curriculum development is a never ending process) Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kontinue. Perencana senantiasa berjuang mencari yang ideal. Karena itu sehubungan aksioma ini record atau  catatan tentang kurikulum lama perlu disimpan

Aksioma 8.  Comprehensive Proces (Curriculum development is a comprehensive process) Pengembangan kurikulum adalah merupakan suatu proses yang komprehensif. Pendekatan yang komprehensif menuntut penggunaan berbagai sumber, bukan hanya personil, tapi juga biaya, tenaga dan motivasi perlu dipertimbangkan.

Aksioma 9.  Systematic Development (Systematic curriculum development is more effective than trial and error) Pengembangan kurikulum lebih baik dilakukan secara sistematik bukan hal yang coba-coba dan salah (trial and error). Pengembangan kurikulum lebih berhasil jika menggunakan suatu model atau sistem pendekatan.

Aksioma 10. Starting from the Exiting Curriculum (The curriculum planner starts from where the curriculum is just as  the theacher starts from where the students are) Pengembangan kurikulum mulai dari kurikulum yang ada, sebagaimana mengajar mulai dari mengidentifikasi murid.

Beberapa prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menurut beberapa sumber  adalah:

1.    Nana Syaodih  Sukmadinata (1977) membagi Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum kedalam 2 kelompok, yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus.

Beberapa prinsip umum dalam pengembangan Kurikulum tersebut adalah:

  1. Prinsip relevansi: Terdapat 2 macam relevansi yang harus dimiliki, yaitu relevansi di dalam kurikulum itu sendiri dan relevansi ke luar. Yang dimaksud dengan relevansi ke luar adalah tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapokan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Kurikulum bukan hanya menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang, tetapi juga yang akan datang. Yang dimakasud dengan relevansi ke dalam, yaitu adanya kesesuaian dan konsistensi antara komnponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian.
  2. Prinsip Fleksibilitas: Kurikulum memiliki sifat yang lentur atau tidak kaku, artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit ruang gerak untuk bertindak. Kurikulum dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan dan latar belakang anak
  3. Prinsip Kontinuitas/kesinambungan: Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Untuk itu pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, anatara satu jenjang pendidikan dengan jenjang pendidikan lainnya.
  4. Prinsip Praktis: yaitu mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhanana dan biayanya juga murah.
  5. Prinsip Efektifitas: Meskipun kurikulum tersebut harus murah dan  sederhana tetapi keberhasilannya harus tetap diperhatikan. Keberhasilan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas.

Sementara prinsip-prinsip Khusus berupa:

a. Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan

b. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan

c. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar

d. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran

e. Prinsip berkenaan denegan pemilihan kegiatan penilaian

2.  Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1986),

Prinsip dasar yang utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum adalah prinsip relevansi, efektifitas dan efisiensi. Disamping itu masih ada 2 prinsip dasar yang lain yang sebenarnya masih berhubungan erat dengan ke tiga prinsip tersebut, yaitu prinsip kesinambungan (kontinuitas) dan fleksibilitas.

 Berikut ini dapat dijelaskan masing-masing-masing prinsip tersebut, yaitu:

  1. Prinsip relevansi: yaitu kurikulum disusun sesuai atau serasi pendidikan  dengan tuntutan kehidupan. Ada 3 macam relevansi: relevansi dengan lingkungan hidup peserta didik, relevan dengan perkembangan jaman sekarang dan yang akan datang dan relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan.
  2. Prinsip Efektifitas: Prinsip ini berkaitan dengan tingkat pencapaian hasil pelaksanaan kurikulum. Efektifitas dalam pengertian  bahwa dalam suatu kegiatan yang berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana atau tercapai. Efektifitas menurut mereka dapat dibagi atas dua, yaitu efektifitas mengajar guru, dan efekltifitas belajar murid.
  3. Prinsip Efisiensi: Prinsip efisiensi berkaitan dengan perbandingan antar tenaga, waktu, dana dan sarana yang dipakai dengan hasil yang diperoleh Prinsip Kesinambungan (kontinuitas) Prinsip ini mengandung ide bahwa perlu dijaga saling kaitan materi pelajaran yang ada pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Kesinambungan disini menyangkut keseimbangan antara berbagai tingkat sekolah dan keseimbangan antara berbagai bidang studi.
  4. Prinsip Fleksibilitas: Fleksibilitas disini maksudnya tidak kaku, artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan di dalam bertindak. Fleksibilitas mencakup fleksibilitas murid di dalam memilih program pendidikan dan fleksibilitas bagi pengajar dalam pengembangan program pengajaran

3. Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis).
  1. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
  2. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  3. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  4. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

4. Lampiran Permendiknas No. 22 tahun 2006. Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
  1. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
  2. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  3. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
  4. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
  5. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  6. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum. Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA

Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto.1986 Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Penerbit Bina Aksara, Jakarta.

Kaber, Achasius, 1988. Pengembangan Kurikulum, Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan, Jakarta.

J. mandalika dan Usman Mulyadi, 2004. Dasar-Dasar Kurikulum, Surabaya Intellectual Glub, Surabaya.

Mangunwijaya. 2008. Kurikulum yang Mencerdaskan. PT Kompas Media Nusantara. Jakarta.

Mohd Ansyar dan H. Nurtain,1992 Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Dikti, Jakarta,

Nana syaodih Sukmadinata.1977. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, PT Remaja Rosda Karya, Bandung.

Oliva, Peter  F .1988.The Developing Curriculum, Scott Foresman and Company, Glenview.

Subandijah,.1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, PT raja Grafindo Persada, Jakarta.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  No. 22 tahun 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: